Sabtu, 26 Januari 2019

Abang

Bagiku kau tempat gelap
disana adalah titik terbaik melihat bintang

Suatu musibah selalu tersirat hikmah
tak ada yang kebetulan
semua sudah tertulis, Allah mengaturnya
Tersadar,
secara tak langsung
kau membantu penyembuhan

Jika aku baik baik saja
apakah aku akan mengenalmu?
Bukan. . .
Ini bukan bentuk perlarian
kita tak pernah saling mencari
dan kita bukanlah dua garis
yang tak sengaja bertabrakan
Semua adalah kuasa Illahi

Assalamu'alaikum warakhmatullah wabarakatuh.

Bismillahhirahmanirrahim, Alhamdulillah sabtu ini langit cerah dan cuaca cukup gerah dikamarku. Siang ini aku sedang belajar menyicil tulisan tentang seseorang. Siapa dia? dia seorang lelaki yang lebih tua dariku. Seseorang yang ku panggil abang. Panggilan yang setara dengan penulis penulis idolaku (haha patut bangga kau bang!) yaa bedanya si abang ini kesannya versi nyata. Umurku dua tahun dibawah dia, dia manggil aku "de" awalnya kurang suka, karena impianku yang boleh manggil "de" nanti ya cuma jodohku aja, huahaha biar keliatan manis manis gimana gitu uwuwuuu. Tapi, oke no problem mau manggil de, del*n, el*n, ag*s bebas sih yang penting jangan manggil sayang hiks makanan yang baru jatuh aja disebut sayang, ah elah apaan sih. Bahkan sekarang udah ikutan manggil mblo yah bang hehe.

Jadi gini, siapakah dia sebenernya? Teman lama teman baru atau teman . . . .?
Hemmm mari kukenalkan namanya Luthfi Chaer Adita. Anak pertama dari 3bersaudara, seorang lelaki yang menjadi teman baruku yang sudah agak lama kukenal. Jadi, ceritanya aku kenal karena dikenalkan. Temen kerjaku adalah kawannya abang. Jelas dong dia yang minta kenalan dulu,(bukan aku bukan aku tapi dia). Melalui pesan singkat whats app. Nah katanya sih waktu itu dia habis "potek" makanya "cari" kenalan baru, entah beruntung atau sial justru no ku lah yang dia dapatkan. Mulailah dia mencoba menghubungiku. Berjalan lancar dan tak terkesan jutek kan aku? wkkk. Sebenernya aku adalah orang yang jutek jika ada no baru masuk, apalagi orang asing. Tapi karena kupikir dia adalah kawannya temanku maka kucoba menanggapinya, menghormatinya, welcome sama orang baru ya meski dengan tetap adanya batasan. Jujur sih sebenernya udah males punya kenalan baru lawan jenis. Prinsipku kala itu kawan lawan jenisku cukup dua saja, bujang bujangku. Aku tak ingin mengenal yang lain. Tapi entahlah justru sikap dia yang membuatku membuka pikiran dan hati. Sikap dia, cara dia berkomunikasi seolah menunjukkan diri "ini loh aku, aku baik aku ingin berteman denganmu" seolah semua nyambung dan nyaman nyaman saja. Dan emang gak sesederhana itu dong, aku tetap mencari tahu "siapa" dia sesungguhnya, dari banyak cerita akhirnya aku bisa mengAcc bahwa aku akan berteman dengannya. Hahahhaa pemilih banget kan aku.

Sekian waktu berlalu, sampai akhirnya kita bertemu. Kala itu aku sedang keluar dengan sahabatku dan dia sedang main dengan temanku yang juga kawannya. Janjian disuatu tempat dan akhirnya menuju ke warung makan ora umum. Disana kami berempat saling ngobrol dan bercanda biasa. Lumayan bisa diterima nih kesan pertama bertemumya.

Pertemuan kedua dia berniat meminjam beberapa novelku. Aku tidak tahu apakah dia benar suka membaca atau baru akan suka membaca, tapi tentu dengan bahagia kupinjamkan beberapa yang kupunya. Hari itu hari buruh 1 Mei 2018 dia menghampiriku ke tempat kerja. Mengambil beberapa novel yang telah kusiapkan. Dia lucu, terlalu blak blakan datang datang dia berkata mules dan buru" pulang hahaha. Karena rumahnya dekat dia naik sepeda. Pertemuan tersebut, aku masih merasa biasa biasa saja. Bahkan terkesan "kok gini ya" apa bisa sih bakal jadi akrab. Ya aku meragukannya haha. Setelah itu hubungan kami tetap  dan masih baik baik saja, eh tidak begitu karena justru dihari itu pula aku mendapat kabar baik dari seorang dimasa lalu yang membuatku mau tidak mau harus jaga jarak sama si abang. Tapi ternyata suatu peristiwa suatu kejadian suatu bencana eeeeh bencana, berlebihan sekali hihi suatu kegagalan sebut saja hal buruk terjadi. Dan atas kuasa Allah dengan skenario yang maha dahsyat aku kembali "dekat" dengan abang. Sebenernya gak dekat dekat banget tapi ya gimana karena aku jarang chat dengan lawan jenis. Ya Allah, mohon jangan anggap ini pelarian atau pelampiasan tapi emang kebetulan aja dia yang ada. Selain keluarga dan sahabat si abang cukup nyambung di ajak curhat dan mengerti posisiku. Dengan kejadian menyakitkan aku mendapat banyak hikmah, dan disitu kami semakin akrab. Berbagi cerita ini itu banyak sekali.

Aku lupa bulan apa, eh sepertinya libur lebaran. Dia libur dan pulang Cilacap. Oh iya, abangku ini anak rantauan dia bekerja di kota pangkal perjuangan, Karawang city hihi. Tepatnya di salah satu PT di Cikampek. Dia "balian" banget kek burung dara. Wkkwkk. Waktu itu aku meminjamkan beberapa novel ke dia, kalo gak salah 3. Salah satu judulnya sebuah usaha melupakan, lainnya aku lupa. Dan pertemuan ketiga ini modusnya adalah pengembalian novel. Ceileh modus wkkk. Sebenernya aku bukan tipe anak yang suka atau sengaja ketemuan diluar, tapi gimana ya aku juga belum berani nerima dia dirumah (yang boleh kerumah orang orang spesial saja :v hahahaa) maka dengan Bismillah dan mikir "gapapa deh udah beberapa kali bertemu, udah akrab dan ada temanku yang kawannya dia juga ko" maka bertemulah kami di pantai ceker ayam. Tempat yang semoga pernah berkesan untukmu bang. Ceritanya mereka sudah sampai duluan, lagi foto foto banyak gaya, yang merentangkan tangan, loncat, candid dan ehem entahlah aku memantaunya dari kejauhan. Mau langsung kesana (trekdam) masih canggung sendirian banget, dan disana lagi rame ramenya. Lalu lalang muda mudi yang berpasangan tak lupa dengan embel embel gandengan. Kuputuskan untuk menelpon abang mengabari bahwa aku sudah sampai, tapi angin membuat sinyal dan suara tak jelas maka ku kirim lewat pesan. Dan akhirnya justru mereka yang menghampiriku ke arah parkiran. Rasanya disitu sama aku masih canggung. Angin kala itu cukup besar kurang cocok untuk menikmati deburan ombak. Berjalan saja sudah membuat oleng, tapi aku berusaha menikmati. Hari itu aku ke tempat biasa dengan orang orang yang berbeda. Para abang yang tak kusangka mampir ke proses hidupku. Disana kami menuju ujung trekdam duduk dengan pemandangan laut lepas. Angin yang besar, ombak yang tinggi. Takkan cocok untuk menggalau. Kami bertiga duduk berjajaran, temanku yang juga kawannya abang mengeluarkan jajanan yang sengaja dibawa untuk menemani obrolan kami. Kami banyak bercerita, meledek dan tertawa. Kau tahu saat saat seperti itu aku sedih teringat para bujang. (Disini ditempat ini kami pernah bersama, menikmati milkmax yang ditemani manisnya senja). Waktu semakin sore, sunset tak begitu terlihat, sebentar lagi adzan maghrib. Kami tak ada lagi tujuan, meski belum puas bermain kami memutuskan pulang. Pertemuan ketiga ini aku tak diantar oleh mereka, lebih tepatnya aku tak mau dan sungkan. Tak seperti pertama bertemu, mereka menjadi buntut sepanjang perjalanan kerumah, mengantarku dan menemani sampai tujuan meski kala itu ada drama juga dimana aku yang sudah berbelok kearah rumah ternyata mereka hanya mengantar sampai depan jalan. Dan disitu aku bisa melihat raut wajah mereka terutama si abang yang punya rasa tanggung jawab sebagai lelaki. Maksudnya mau mengantar, menemani, mengawasi dan melindungi. Waktu berlalu cepat. Kami kembali sibuk dengan aktivitas padat.

Hari ini tanggal 16 Januari 2019, hari kesekian aku menyicil menulis. Hari kesekian aku kemikirkanmu, mengingat kenangan yang sesungguhnya sudah terlupakan. Berat. Dan tau gak bang, pagi ini aku menulis diruang melati 1 yang dingin karena Ac, ketambah rok basah terkena hujan. Eaaaa kenape gue malah curhat. Dan mau tidak mau kegabutan pagi ini membuatku melanjutkan tulisan.

Sampai mana tadi, pertemuan ketiga? emm kira kira ada cerita apa ya diantara pertemuan ketiga dan keempat. Sepertinya tak ada yang spesial, yang kuingat kala itu kamu sedang semangat semangatnya membaca, dan ingin meminjam lagi beberapa novelku. Tapi karena jarak yang jauh jadi kukirim lewat paket. Eh btw apa kabar para novelku disana, baik baik sajakah kalian atau apakah kalian hanya tertumpuk dikardus lantai bagian pojok? hey seharusnya kalian protes. Mintalah untuk dibaca, mintalah untuk segera diselesaikan, rayulah si abang untuk minat membaca lagi. Ku tahu akhir akhir ini minat baca abang sudah menurun. Jadi sedih. Hiks.

Oiya aku jadi inget apa hal ini yang membuat kamu janji ngasih coklat? iya bukan ya hehehe. Iya jadi si abang janji mau kasih aku coklat entah kapan yang pasti dia akan kasih hahaha iya kan bang. Bicara bicara, aku pernah dikasih coklat gak yah sama cowo? *mikirkeras* yah ternyata udah pernah (berarti abang bukan yang pertama) aku dikasih sama bujang pertama, kala itu dia ngasih silverqueen yang chunkybar, balok hemm ku tak terlalu suka. Enakan yang silverqueen biasa (ini bukan kode looh ya) dan karna kutahu dia ngasihnya dengan makna tersirat bau bau tidak sedap, kuurungkan niat untuk memakannya sendiri. Nunggu dong kumpul bertiga baru deh ku bagi coklatnya dan yang ngasih ikut makan juga hahaha nyebelin kan aku berasa tidak menghargai pemberian, padahal niat dia khusus buat aku eh malah aku bagi bagi wkkk #akugakmaudiaanggapakuspesial. Besok kalo abang jadi ngasih, Insyaa Allah kita makan bareng coklatnya wkk.

Yuk ahh lanjut jangan bahas coklat mulu, nanti yang ada ngiler lagi. Kemana kita sekarang? jeng jeng kisah pertemuaan keempat? hahaha Tuh kan di balian banget rasanya baru kemaren pulang eh pulang lagi. Etssss tapi kali ini dia pulang mendadak sih karena ibunya habis jatuh jadi dia super khawatir (lelaki idaman) pulang lah dia ke Cilacap, setelah urusan ibu dan keluarganya selesai, sambil menyelam minum air, disaat dia pulang dia pun ingin main. Sore hari mengajakku menjadi tourguide. Sore itu kami pergi ke pantai ceker ayam, masjid agung dan alun alun.  Sama pertemuan kali ini aku masih belum cukup berani mengajaknya kerumah jadi kami berniat ketemuan. Sama, walaupun sebenernya gak biasa. Prinsipku Bismillah, toh udah beberapa kali ketemu dan sudah saling akrab. Si abang nyampe duluan aku belakangan, inget pertama masuk daerah ceker ayam disambut dengan panggung dangdut dengan ramainya orang. Bingung antara berani atau enggak. Sempet berhenti ingin balik tapi akhirnya ku nekatkan untuk permisi melewatinya di parkiran abang sudah menunggu dan sepertinya sudah lama hahaha aku telat. Saling sapa dan mengobrol, sebenernya aku udah niat mau bawa milkmax buat penyelimur suasana, apalah daya aku saja datangnya sudah telat bagaimana jika tertambah mengantri milkmax. Senangnya kembali bertemu, dengan perasaan yang sudah berbeda. Kali ini aku sudah tak canggung, kali ini aku sudah merasa dekat dan mengenal lebih dalam, kali ini kami sudah benar benar akrab. Kami kembali duduk di pinggiran trekdam, meski nostalgia kali ini tetap berbeda karna kami hanya berdua. Memandang ombak yang menabrak karang, eh bukan, tapi ceker ayam. Anginnya besar cukup membuat perut kembung. Meski sudah banyak cerita, berdua tanpa penyelimur rasanya tetap canggung. Si abang bertanya "gak bawa jajan?" seketika aku membela diri, dia datang terlalu awal jadi aku tak bisa mampir membawa buah tangan. Dan akhirnya kami memutuskan memesannya lewat gofood. Btw berarti bukan aku doang loh ya yang ngerasa canggung, dia juga hehe. Awalnya sih bingung mau cemilan makanan atau minuman, karena sama sama bingung ya sudah kuputuskan memilih milkmax saja seperti niat awalku. Dan akhirnya cukup lama berkutat dengan hp sibuk memesan. Bagiku obrolan kurang memuaskan karena benar sibuk memesan si penyelimur. Ombak didepan terabaikan, sampai akhirnya pesanan datang dan kami meninggalkan trekdam. Sempat kecewa karena niat awal ingin menikmati suasana ceker ayam yang sudah dirindukan, tapi apa daya banggofood sudah menanti disana dan kami harus buru buru meninggalkan posisi semula. Setelah milkmax ditangan kami kembali duduk dipinggiran melanjutkan obrolan yang tak bertema. Jam sudah menunjukkan waktu maghrib. Karena main memang sudah sore dan sebenernya masih ingin ketempat lain, kami akhirnya memutuskan ke masjid agung untuk sholat maghrib. Disana kami berpisah karena tempatnya berbeda. Jamaah sudah dimulai tapi aku kehabisan mukena jadi aku menunggu kloter selanjutnya, saat itu ku yakin abang sudah selesai duluan. Kukirim pesan singkat pemberitahuan aku akan telat keluar, lagi lagi aku telat haha. Selesai sholat kami ke alun alun mencari makan, menu bakso menjadi pilihan ketika sama sama bingung dengan banyaknya menu. Duduk dibawah pohon beringin dengan pencahayaan yang sedikit redup, duduk lesehan terasa lebih nyaman. Kalo dipikir ini tempat romantis juga, tapi tidak dengan orang orangnya hahaha. Moment dimana aku berasa benar benar punya abang. Masyaa Allah ternyata pertemuan ini membuat kami semakin akrab dan dekat, beda dengan saat saat pertemuan sebelumnya. Selesai makan waktu isya datang, abang memilih kembali berjamaah di masjid agung. Aku berpamitan pulang karena badan sudah merasa tak enak dan takut pulang terlalu malam. Saat di parkiran, bertemu kawan lama abang. Mereka temu kangen dan berujung meledek keberadaanku. Ya kami dikira memiliki hubungan lebih, ah sudah biasa aku tak ambil pikir. Kebetulan kawan abang dari komunitas benang putih yang sedang mengumpulkan donasi untuk korban bencana alam. Abang di ajak untuk bergabung, sebenernya aku ingin ikut tapi tetap aku memilih pulang. Selesai pertemuan kami, tengah malam aku merasa tak enak badan hingga akhirnya pagi hari aku meriyang. Eaaak bukan merindukan kasih sayang loh ya . . Badanku demam panas dingin sepertinya efek angin laut yang besar dan telat makan. Tapi ini sungguh membuatku libur magang dirumah, aku seharian tak pegang hp karena memilih istirahat dan tidur panjang. Membuka hp saat sore tiba, ada pesan masuk dari abang yang bertanya judul novel, setelah ku tahu ternyata abang siang tadi sedang berada di gramedia. Bahkan dia menyalahkanku yang tak membalas tepat waktu, katanya kalo tepat dia akan membeli novel yang aku rekomendasikan. Apalah daya aku membukanya telat. Eak telat lagi. Jadinya dia membeli novel yang sebenernya sudah kupunya. Hiks aku jadi gak bisa pinjem kan hemmm. Dan hari itu pula aku tahu abang pergi sama kawan cewe (adik kelasnya). Wah apakah aku cemburu hihihi, tidak. Aku jadi tahu, aku bukan satu satunya adik abang, ya walaupun abang adalah satu satunya abangku hiksss ko aku sedih sih ngetiknya. Hem maka dari itu aku berusaha untuk mengontrol perasaan, sekalipun kami sudah benar akrab.

Ada moment dimana abang memberi tahu lowongan kerja di mini market milik saudaranya, aku di rekomendasikan untuk mendaftar disana. Benar dengan adanya nama dia beberapa minggu setelah melamar aku mendapat panggilan, Disana aku menjadi kasir, yang kusuka mini market ini baru, semua belajar dari nol begitupun dengan aku yang tidak memiliki pengalaman di bagian ini, orang orangnya welcome, dan penuh lawak. Suasana nyaman, yang membuat sungkan aku benar benar masuk dan satu lingkungan dengan keluarga abang. Ada pakdenya, tantenya, kaka sepupu bahkan secara tak langsung aku jadi mengetahui semakin dalam cerita cerita dan kisah keluarga besar abang.
Moment tahun baru aku belum ada seminggu kerja. Dan saat libur si abang pulang kampung, sebelumnya abang memintaku menemani dia kerumah teman yang baru saja menikah. Aku mengiyakan dengan syarat ia ijin dahulu pada orang tuaku. Hari minggu 30 Desember 2018, malam hari ia kerumah walaupun sebenernya dengan banyak drama dahulu. Bagaimana tidak sore hari ia baru saja pulang menonton bola, aku tahu dia lelah apalah aku seorang wanita yang seolah sudah diberi janji, sudah menjadi targetku hari itu bahwa sore menuju malam aku pergi menemaninya, padahal cukup sibuk aku hari itu siang hari pun aku meet up dengan wanita wanita kesayanganku. Tapi ternyata mendadak dia akan membatalkan hahaha aku gak masalah sebenernya, toh yang butuh mau pergi juga dia bukan aku. Tapi disini aku bilang, aku tetap lah wanita yang seolah sudah ada planning jadi agak kecewa sih, trus om Auf posting video yang seakan posisi aku banget, iseng ngirim ke dia. Eh doi langsung peka wkk eh abang maksudnya, dia langsung bilang mau kerumah yang awalnya manda mundu, do you know manda mundu?? Sudah sampe rumahkupun dia masih drama antara mau tetap main dirumah saja, atau pergi keluar, ke alun alun. Ehhh ehhh padahal waktu udah jam 7lebih melebihi target awal, dia memutuskan untuk tetap kerumah temannya yang sebenernya cukup jauh. Dan akhirnya pamit pada ibuku. Kami pergi dengan modal google maps yang justru bikin nyasar dengan arah yang lebih jauh, dan disitupun aku gagal menjadi pemandu. Abang yang mengendarai motor dan aku yang pegang hp berulang kali harus berhenti dan berulang kali harus balik hahahha. Maafkan aku. Sebelum sampai aku sudah bilang kebelet pipis, dia jawab iya nanti kalo udah sampai. Sebenere malu sih bilang, tapi terlanjur nyeplos aja. Dan sesampainya disana sebenernya masih bisa ditahan tapi justru abang yang mendahului dan memerintahkan cepet ke belakang. "Yakin mau di tahan" dengan tatapan perintah. Sebenernya ingin ngakak karna ini terlalu blakblakan untuk aku dan dia, tapi seneng juga entah apa yang membuat aku ngerasa fix dia abangku. Esok harinya aku berangkat kerja, siapa sangka hari itu dia bolak balik ke toko karena beberapa urusan. Menjemput tantenya yang mau pijet, nganter lagi ke toko, mampir nganterin keponakan dan nganterin helm.
Pas awal cuma diluar, jadi aku masih biasa aja toh diluar gak saling sapa gapapa. Keduanya di masuk toko dengan lagat sok sibuk tapi aku tau dia benar sibuk, sayang sekali polah dia seolah mencueki ku. Beda sekali dengan semalam, ku tahu karna di dalam toko ada tantenya mungkin dia jaga sikap biar gak terkesan akrab denganku. Tapi disitu aku merasa potek karena hal yang aku benci adalah tercueki oleh orang yang sebenernya akrab. Disitupun aku gak bisa ambil sikap, jadi ikut diem meski sesekali meledek tapi percuma. Dia membeli beberapa eskrim yang juga dibagikan kepada kasir. Tentu para kasir menunjukku untuk mengkasiri si abang, karna suatu kesalahan ada sikap panik saat itu dan akhirnya menjadi sebuah gosip di keluarganya. Yang ketiga kalinya aku emang lagi dibelakang makan eskrim, cukup kaget saat ia mampir meski diluar tapi dia bersama orang tuanya dan adiknya. Was was hati ini hahaha. Alhamdulillah gak masuk dalam, dan yang terakhir saat tantenya memintaku ngechat si abang untuk anter helm. Beberapa saat kemudian dia datang, karna perasaanku sudah kecewa di awal dan kebetulan aku sibuk belajar kasir. Ngeeeh waktu dia datang meski cuma di luar aku nengok hanya melihat di kaca, satu satu nya ekspresi yang kusuka saat dia datang. Tapi bagaimanapun aku berusaha mengabaikan dengan kesibukanku toh dia juga gak akan menyapaku.

Moment siang itu benar benar mengecewakan rasanya sebal dengan dia hahaha. Sampai aku mutung dan membatalkan mengajak dia kondangan. Tapi entah kenapa dia kekeuh untuk ikut. Beberapa kali melarangnya karena aku terlanjur bete dan takut di culik untuk ke acara keluarganya hahahha (udah kepedean dulu), akhirnya dia berangkat bersama temanku yang kawannya dia juga. Ternyata dia bisa membaca ekspresiku meski tertutup masker. Ku coba mencairkan suasana dan bersikap biasa saja. Tapi kata si abang aku nyebelin udah jalannya nyelonong ninggalin dia, berasa nganggep dia gak ada hahaha. Sebete betenya aku tapi sungguh aku gak niat ninggalin, ya karna aku cewe dia cowo kirain ya bakal jalan sama cowo juga dianya, eh ternyata aku memberikan kesan menyebalkan. Malam itu kami mendapat moment foto bertiga ditambah pengantinnya. Dan beberapa foto paparazi hasil jepretan temanku yang kawannya abang juga.
Dan ini terakhir kami bertemu, esoknya abang kembali merantau.

Semakin hari setelah pertemuan panik itu, aku semakin baper karna faktanya semakin dekat pula aku dengan keluarga abang. Ku selalu mencoba untuk menguatkan hati dari kamu yang belum juga ehhhh lah dalah malah nyanyi. Intinya berusaha tetep mengontrol diri bahwa dia abangku berusaha senetral mungkin. Seperti biasa setiap malam kami chattingan hingga pada suatu malam saat aku shift malam dia juga menemani. Trus ada malam juga dimana aku lagi sensi dan abang becandain aku yang intinya disini aku udah anggap dia abang tapi dia gak anggap aku adik, sedih gak sih cuy. Berasa bertepuk sebelah tangan, dan ntah kenapa kami biasa becanda tapi kali itu benar ku masukan hati dan membuatku mengeluarkan air mata. Lebay dong aku hahahaha. Tapi itung itung menyehatkan mata sih, udah lama gak nangis. Dan udah lama gak dibuat nangis sama cowo, eh  ini abang jadi tersangka. Mau nyuekin dia nya ngeeeh kalo aku mutung hihi. Akhirnya dia menyesal dan minta maaf, ku maafkan dan esoknya kembali biasa. Hem apa banget kan aku tuh, lagi pengin dimanja kali ya. Payah.

16 Januari 2019, Sekarang aku diluar, didepan ruang melati. Aku duduk dikursi panjang, memandang pepohonan ditaman. Hari ini sudah tak hujan namun saat pohon bergoyang airnya berjatuhan. Hijau, syahdu membuat terpaku. Memilih mengambil kertas melanjukan tulisan. Tempat ini cocok untuk para introvert. Nyaman sekali, suasana setelah hujan sungguh sejuk. Aku bahagia. Disini tempat ini menjadi saksi hati yang tersakiti oleh diri. Betapa ia lupa sebagaimana semestinya ia berharap hanya kepada sang pencipta. Lantunan adzan mulai terdengar merdu, waktu ashar tiba. Sore petangpun melaju. Disini ditempat ini seorang wanita terlihat melamun, memikirkan apa yang entah dipikirkan, memikirkan hati yang patut dilindungi.
Benar hari ini aku mengumpulkan sisa batin untuk berani mengeluarkan, menyampaikan agar hati benar benar tenang. Sudah kupikir matang, kata seorang sahabat tak apa terlampau malu dari pada luka semakin mengganggu.

Malamnya aku membuat suatu keputusan yang sudah lama kupikirkan, yang sudah beberapa kali abang tanyakan. Semoga apapun itu adalah yang terbaik untuk kami, biarkan kami saling menjaga diri dan hati tanpa ada niat melebihi. Semoga kedepannya kami sama sama menjadi pribadi yang baik dan semakin baik. Meski tak sedekat dulu, biarkan waktu yang menjawab, biarkan skenario Allah yang berjalan. Bukankah yang menjaga akan dijaga.

MasyaaAllah super sekali ini cerita panjang untuk sebuah kisah klasik yang kutuliskan. Berusaha ngebut karna ditunggu, berusaha menyelesaikan agar hati tak terganggu. Mohon maaf abang, jika ini tak sesuai bayanganmu dan keinginanmu.

Abangku ini orang yang baik dari keluarga yang baik baik, semakin dalam semakin aku minder berada di dekatnya. Bagiku dia sederhana dan apa adanya banget, aku suka semakin lama semakin kenal, kepribadian dia semakin baik. Sudah meninggalkan sistem pacaran, dan akan berhenti mencari kenalan, hihi semoga istiqamah ya. Sebenernya dia sama denganku introvert tapi Alhamdulillah kalo sama aku dia bisa lebih cerewet jadi jatuhnya dia bisa ngemong dan obrolan kami nyambung. Satu yang aku heran, kami beda dua tahun dan dia lebih tua. Kalo dibayangkan dia jadi kakak kelasku mana berani aku akrab sama dia hahahha. Kawan kawan, abangku ini zomblo, sedang dalam pencarian jodoh eh tapi belum nyari masih mau memperbaiki diri dan targetnya tahun depan nih. Ayo para wanita siapa tahu ada yang nyantol wkwkkk. Abangku seperti bujangku suka kucing dan punya kucing. Dimata wanita, lelaki penyayang kucing punya poin plus. Sifat jeleknya dia apa sih ya, ya sama dengan kebanyakan lelaki. Kurang peka. hahaha.
Ada hal yang gak aku suka saat ngobrol sama abang, kalo udah bahas jodoh atau pernikahan dan minta didoain wkwkk oke oke itu terkesan b aja tapi ntah hati terlalu sensi takut menerka nerka hal yang tak semestinya. Selain itu saat bertanya meminta pendapatan eh malah ngeyel seolah protes dan punya pendapat sendiri. Oke, ngapain nanya ke aku berasa sia sia kan aku jawabnya haha. Hal apa sih yang berkesan bareng dia atau selama kenal dia, em apa yah belum ada kayaknya eh paling itu tuh waktu aku super sensi dia langsung peka dan minta maaf berusaha untuk tidak mengulangi lagi dan akan lebih berhati hati dalam bercanda, emang sih terlihat hal sepele tapi gimana ya ko gue tersentuh gitu, trus sama waktu dia nganter helm tantenya ke toko. Meski cuma liat sekilas dan gak ada lima detik itupun cuma liat dari kaca. Ekspresi abang pas dateng punya kesan tersendiri, membekas dihati hahahaha buset apa gue lagi gombal ini. Iya satu satunya ekspresi yang aku suka pas moment itu sih. Dan kusadari yang inipun akan berlalu, "bertemu akan berpisah, hey sampai jumpa di lain hari untuk kita bertemu lagi kurelakan dirimu pergi meskipun ku tak siap untuk merindu" lirik lagu yang mewakilkan hati, bagaimanapun akan terjadi diantara kami. Entah bagaimana nanti ceritanya, entah bagaimana nanti kisahnya meski banyak terkaan sebaiknya jangan mendahului takdir. Sedih? iya, rasanya baru kemaren tapi harus udah siap untuk biasa biasa lagi. Tapi inilah hidup, bukan kah hakikat hidup adalah Seperti halnya pesan yang disampaikan malaikat Jiibril kedada Rasulullah.

  Dari Sahl bin Sa’d berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

ﺃَﺗَﺎﻧِﻲ ﺟِﺒْﺮِﻳﻞُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺍﻟﺴَّﻠَﺎﻡُ، ﻓَﻘَﺎﻝَ : ﻳَﺎ ﻣُﺤَﻤَّﺪُ ﻋِﺶْ ﻣَﺎ ﺷِﺌْﺖَ ﻓَﺈِﻧَّﻚَ ﻣَﻴِّﺖٌ، ﻭَﺃَﺣْﺒِﺐْ ﻣَﻦْ ﺷِﺌْﺖَ ﻓَﺈِﻧَّﻚَ ﻣَﻔَﺎﺭِﻗُﻪُ، ﻭَﺍﻋْﻤَﻞْ ﻣَﺎ ﺷِﺌْﺖَ ﻓَﺈِﻧَّﻚَ ﻣَﺠْﺰِﻱٌّ ﺑِﻪِ، ﺛُﻢَّ ﻗَﺎﻝَ : ﻳَﺎ ﻣُﺤَﻤَّﺪُ ﺷَﺮَﻑُ ﺍﻟْﻤُﺆْﻣِﻦِ ﻗِﻴَﺎﻣُﻪُ ﺑِﺎﻟﻠَّﻴْﻞِ، ﻭَﻋِﺰُّﻩُ ﺍﺳْﺘِﻐْﻨَﺎﺅُﻩُ ﻋَﻦِ ﺍﻟﻨَّﺎﺱِ

Jibril mendatangiku lalu berkata:

"Wahai Muhammad, hiduplah sesukamu, (tapi ingat) sesungguhnya kamu akan mati. Cintailah siapa yang kamu suka, (tapi ingat) sesungguhnya engkau akan berpisah dengannya. Berbuatlah sesukamu, (tapi ingat) sesungguhnya engkau akan diberi balasan."

Pada dasarnya segala sesuatu jangan berlebihan, takut terlalu sakit jadinya.

Buat abang makasih banget sudah mampir dalam proses hidupku, banyak mengenalkan hal baru yang belum ku tahu, banyak kebaikan yang kudapat dari abang, mohon maaf jika aku banyak salah dan sering menyebalkan, apalagi saat seolah aku tak menganggapmu ada kala kondangan itu wkkk. Semoga kita tetap menjadi teman baik dan selalu mengikuti dan menerima dengan ikhlas apapun skenario Allah.

Teruntuk abang yang sedang berproses untuk selalu menjadi baik. Semangat dan semoga istiqamah. Bang jangan merokok ya, jangan keseringan makan mie instan, tetap menjadi accismus, oiya aku tahu kamu orang baik yang suka sungkan sama orang tapi semoga kamu juga bisa memikirkan diri sendiri. Berbuat baik boleh tapi jangan sampai menyiksa diri ya. Jaga kesehatan di tanah rantau, jangan sampai sakit kan sedih tuh jauh dari orang orang kesayangan, tetep jaga hati dan jaga diri teruntuk jodohmu di masa depan. Tetap jadi abang yang humble, dan sayang sama adik adikmu, terutama orang tua. Trus apalagi ya, ahahhaa ini ngetik kek seolah lagi ngucapain doa doa saat bertambah umur, atau seolah kek mau berpisah huhuhu semoga jangan dulu. Meski ku tahu abang pun hanya titipan Allah yang mampir dalam hidupku, yang sewaktu waktu kapanpun itu bisa saja akan menjauh.

Bingung apalagi, udah panjang banget. Kisah yang pendek dengan cerita yang panjang. Maaf ya jika tidak berkesan tentangmu ini.
Udah ah udah capek nulis, nyalin, ngetik, mikirin kamu, nginget kenangan wkwkk
semoga ada cerita cerita selanjutnya diantara kisah kisah kita. Bang tetap menjadi baik dan terus baik ya!

Sekian kisah dengan tulisan amburadul dari si ag*s,

Wassalamu'alaikum warakhmatullah wabarakatuh.

Senin, 14 Januari 2019

미안해

Terdengar suatu bisikan,
"Tugasmu sudah selesai Fulannah, mari tinggalkan"

dan hati menyangkal,
"Aku masih ingin menemani
aku masih ingin banyak belajar"

"Sampai kapan? apapun alasanmu.
Apakah kau menanti sampai kau sendiri yang tersakiti?
hatimu bahagia, hatimu senang, pipimu memerah tapi kau berdosa
Ini sesaat, bukankah dunia itu menipu!"

*menangis*
berdoa dan berbisik
"bantu aku tak berdosa, bantu aku merubah semua ini menjadi pahala"